Sebagai penganut agama Islam abangan yang belajar agamanya sesempatnya, tentu cukup sulit untuk mencapai tingkat kompetensi menjadi imam atau khatib. Di samping hapalan surah yang terbatas, kesempatan yang ada paling jauh jadi imam istri dan anak. Itupun sering dicela kalau bacaan terlalu panjang atau salah. Bahkan dibandingkan imam dan khatib di masjid kampung belakang rumah, kompetensi shalat saya tampaknya seperti langit dan bumi.
Tapi bayangan dan mimpi untuk suatu saat dipercaya jadi imam dan khatib di luar shalat di rumah sendiri tentu tetap menyala. Ramadhan biasanya jadi kesempatan untuk berupaya khatam Al-Quran serta menambah hapalan surah dari Juz Amma. Sayangnya sampai umur melebihi setengah abad, belum setengah dari Juz Amma bisa hafal.

Namun tahun ini ada berkah terselubung dari Ramadhan dan Idul Fitri. Pandemi global Covid-19 menyebabkan perubahan aktivitas ibadah dan larangan mudik dari pemerintah untuk memutus rantai penularan virus. Akibatnya pembantu dan tukang kebun di rumah tidak bisa mudik ke kampung halaman mereka. Kasihan juga mereka yang harus mengubah kebiasaan tahunan demi menjaga keselamatan bersama. Untungnya mereka bisa diberikan pengertian.
Dengan niat memberikan sedikit hiburan bagi pembantu dan tukang kebun, maka saya menawarkan untuk membuat shalat Idul Fitri di garasi. Kebetulan anak perempuan saya, istri, dan kakak istri bersedia ikut shalat. Jadi sudah melebihi minimal syarat jumlah makmum sejumlah empat orang. Biar lebih afdol, tentu saja sebaiknya ada khotbah.
Mulailah hunting di internet untuk tata cara shalat serta pedoman khotbah. Alhamdulillah dengan himbauan MUI untuk penyelenggaraan shalat Idul Fitri di rumah mengingat bahaya Covid-19, bertebaran materi di internet maupun di grup WhatsApp. Sehari menjelang Idul Fitri bahkan ada e-book dari MUI yang berisi contoh khotbah serta panduan shalat Id komplit. Saya pilih satu khotbah singkat serta di-print untuk dibacakan.
Pada hari Idul Fitri yang kebetulan jatuh hari Minggu, saya bangun pagi-pagi dan membaca ulang print-out khotbah. Tidak lupa membawa mushaf Al-Quran kesayangan sebagai tambahan referensi waktu membacakan ayat dari khotbah. Maklum, biarpun buku fisiknya sudah compang-camping, tapi mushaf ini yang menemani saya khatam Al-Quran pertama kali.
Sesuai rencana, shalat dimulai sekitar jam 6.30 pagi. Sesuai sunnah, sebenarnya bacaan surat pendek yang dianjurkan adalah surah Al-A’la (QS 87) dan surah Al-Ghasyiyah (QS 88). Namun sebelum shalat saya tawarkan ke istri dan anak surah yang akan dibaca. Keduanya ingin surah yang pendek, jadi rencana berubah. Rakaat pertama jadinya Al-Ikhlas dan rakaat kedua An-Nas. Alhamdulillah lancar.
Setelah shalat, maka dilanjutkan dengan khotbah singkat sesuai persiapan. Diselingi dengan bacaan ayat Al-Quran langsung dari mushaf kesayangan. Beberapa bagian dari khotbah saya lewati serta ada beberapa yang saya modifikasi sesuai dengan kondisi di rumah. Akhirnya khotbah ditutup dengan doa singkat.
Singkat cerita semua lancar dan bahkan cukup menyenangkan bahwa anak perempuan saya langsung komentar terkait pernyataan di khotbah untuk mempererat tali kekeluargaan. Sayangnya cara yang disarankan anak saya adalah untuk membelikan baju baru biar ikatan bapak dan anak lebih erat.
Bogor, 25 Mei 2020. Pertama kali diterbitkan di Kompasiana.